Jumat, Februari 05, 2010

hugs :)










Jumat, Desember 11, 2009

perangkap tikus

Seekor tikus mengintip dari lubang yang ada di tembok untuk melihat petani dan istrinya membuka belanjaan mereka. “Makanan apa yang mereka beli?” tanya tikus itu dalam hatinya. Dia begitu kecewa ketika mengetahui bahwa yang dibeli sang petani adalah perangkap tikus.

Tikus berlari ke ladang sambil berteriak-teriak, “Ada perangkap tikus di rumah! Ada perangkap tikus di rumah!” Ayam berkata kepada tikus, “Tuan Tikus, perangkap itu adalah kuburanmu, itu tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak mau direpotkan oleh masalahmu”. Tikus kemudian bertemu dengan babi dan berkata, “Ada perangkap tikus di rumah!” Babi itu menunjukkan kesedihannya dan berkata “Aku ikut bersedih Tuan Tikus, dan tidak ada yang dapat kuperbuat selain berdoa untukmu. Yakinlah engkau akan selalu ada dalam doaku.” Kemudian tikus datang kepada sapi dan berkata, “Ada perangkap tikus di rumah!” Sapi menjawab “Woow Tuan Tikus. Aku ikut bersedih. Tetapi perangkap itu bukan untukku, hidungku saja tidak dapat masuk ke dalam perangkap itu.” Lalu kembalilah tikus ke rumah dengan kepala tertunduk dan hati yang hancur karena harus menghadapi perangkap itu sendirian.

Pada tengah malam, terdengar bunyi perangkap tikus yang begitu keras seperti ada sesuatu yang tertangkap. Istri sang petani terbangun dan segera memeriksa untuk melihat apa yang telah tertangkap. Di dalam kegelapan malam ia tidak dapat melihat bahwa ada seekor ular berbisa yang ekornya kena perangkap tikus itu. Ular itu mematuk istri petani. Sang petani segera melarikannya ke rumah sakit dan istrinya kembali pulang ke rumah tetapi dengan badan yang masih demam.

Sang petani tahu, bahwa orang yang demam dapat cepat sembuh dengan sup ayam yang hangat. Petani itupun menyembeli ayamnya, namun demam istrinya tetap berlanjut. Banyak teman dan tetangga yang berdatangan. Untuk menjamu mereka, si petani terpaksa menyembelih babinya. Akhirnya, istri sang petani tidak tertolong, ia menginggal dunia. Banyak orang yang datang ke rumah sang petani untuk menyatakan belasungkawa dan untuk menjamu mereka semua, sang petani terpaksa memotong sapinya.

Suatu saat, jika Anda melihat atau mendengar bahwa seseorang sedang menghadapi masalah dan berpikir bahwa itu tidak ada hubungannya dengan Anda, ingatlah bahwa ketika seorang dari kita sedang menderita, sebenarnya kita semua juga terancam menderita. Semua kita terlibat dalam perjalanan bersama yang disebut kehidupan. Terlebih lagi jika kita sama-sama bermasyarakat dalam satu wilayah tertentu. Kita semua bersaudara. Jangan hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, tetapi kita juga harus memperhatikan orang-orang lain, dan bersedia untuk memberikan bantuan untuk menguatkan dan menolong saudara kita yang sedang dalam kekurangan, ketakutan, dan penderitaan, ataupun pencobaan.

“Ingatlah bahwa kita yang ada di dalam satu perahu kehidupan ini layak saling tolong-menolong”